Saturday, October 09, 2004

*Melangkah ke simphony cinta*

sesaat aku menoleh, melewati daun jendela kamarku,
sesaat aku berpaling ke arah lain,
aku terkagum pada sesosok pujian,
pujian setiap mahluk bernama adam,
Matanya menatap teduh pada rohku,
lesung pipinya yang merona bagai bunga mekar,
aku rasa ada kepingan surga dihatinya,
semakin menambah keanggunan kerudung labuhnya,
Dalam ruang gelap, lilin kecil, asap rokok
dan iringan musik simphony mozart,
semakin mebuatku ringkih, tak beraturan,
Dia menyelamatkan aku dari kesalahan terbesar,
Dan rangkaian kata Ratih Mufti pun mengalir,
Tuhan memanggil nama itu dan namaku,
Sejenak aku tersadar kembali dari lamunan,
Hei, chandra!! dengar.....
angin malam mengucapkan sesuatu,
bisikan apakah gerangan itu?
Hanya bisikan untuk melangkah ke simphony
cinta yang agung....
"Dibuat dari lamunan - 22.11.2003"


Friday, October 08, 2004

"aku cium hujan di keningmu"

aku cium hujan di keningmu,sayang...

aku cium hujan di keningmu yang basah,
alangkah damainya,
alangkah damainya,
tapi masih sanggupkah kau memahaminya sebagai cinta?

aku cinta mufti itu,
di ujung ruang yang kosong,
malam memasang purnama,

sedang kita masih bermain kata-kata,
sedang kita masih terhalang asa,
sedang kita masih bertanya-tanya,
sedang kita masih bersandar pada gerhana,

sudikah kamu mencintai chandra ini?

"dibuat di ujung ruang kosong - 22.11.2003"

Jomblo

ada ruang kosong disudut itu,
ada yang berubah dalam hati,
bahkan ada suara yang memekakan,

apa ini?
kenapa? dan kenapa?
selalu saja kenapa?
ada apa lagi nanti?

kesal, sesal...marah
selalu percikan bara api dalam hati,
sejam kemudian aku menoleh,

terlihat sudut itu masih kosong,
adilkah sudut itu kosong?
bahkan bagiku mustahil itu adil,

Tuhan pun tersenyum,
Bodoh...tuhan sudah adil..tahu!!
aahh, itu hanya isapan para ulama,
Goblok..tuhan itu selalu benar,
pasti sungguh benar,

Lalu, kenapa sudut itu masih kosong?
apakah akan selalu dikosongkan?
atau akan selalu dibuat kosong?

"dibuat dalam ruang hati yang kosong - 19.12.2003"