"SANDIWARA KEHIDUPAN & SANDIWARA CINTA"
Kalian tahu?
Dulu, saya tercampakkan begitu saja...
Sampai saat saya diajak dalam sandiwara cinta..
Kalian tahu?
Saya tidak mau terlibat dalam sandiwara ini,
Karena ini semua hanya sebuah sandiwara murahan,
Sandiwara akibat mempertahankan sebuah martabat keluarga besar.
Dimana sebisa mungkin harus sempurna dan sebaik mungkin dimata orang.
Di keluarga itu hanya untuk menempatkan kemenakan di atas nama cinta.
Kalian tahu?
Dulu, aku mencintai dia...
Dan dia juga mencintai aku...
Tapi keluarganya menolak rasa cinta ini,
Karena aku bukan siapa-siapa,
Karena aku bukan dokter, insinyur atau apalah!!
Karena keluarga itu mengharuskan...
Dia mencintai orang yang terhormat,
Tidak seperti aku yang hanya seorang Fotografer amatir.........
Kalian tahu?
Kalau suatu hari aku menjadi Fotografer terkenal,
Itu pasti karena usaha, kerja keras dan perkenan Alloh SWT!
Kalian tahu?
keluarga ingin anaknya bahagia..
keluarga ingin anaknya tentram dan bahagia dgn suaminya...
Sampai saya sadari,
Nasib membawa saya ke tempat yang dibuat manusia menjadi NERAKA!!
Kalian tahu?
Insyaalloh saya bisa memberikan makan pada istriku nanti bukan dari uang seseorang....
Karena terkadang laki-laki bisa tahu apa yang tidak jelas menjadi jelas saat berada disituasi buruk!!!
-chandraprawendha-
PS: Semoga esok, kembali terjadi sama dgn malam ini,kasih! aku tunggu panggilanmu besok!!
Chandra Prawendha with poem and photos
Saturday, March 19, 2005
Sunday, February 27, 2005
TAK DISANGKA......ternyata kamu, saya dan kita ini...
TAK DISANGKA......ternyata kamu, saya dan kita ini...
kita disini...yak... kita, kamu ,saya dan yang lainnya!saya hanya ingin bicara sama kamu, dan diri sendiri inii...jgn berpaling dulu,sayang! sebentar saja...
pernah menyadari??
di saat suatu sudut ruang hati disekitar kita berasa kosong...
di saat kita akan menutup mata saat malam tiba...
merasa dan berfikir...di saat kamu ngga bisa tidur..takut!!!
kena DO, atau ketakutan yang melanda umat...bagaimana kalo saya, kamu atau kita berhenti menerima oksigen?!
atau menyadari..........sial, hari ini gue ngapain aja?!
kita, kamu dan saya cari sebuah "pelarian" supaya tetap sibuk...yang akhirnya diakhiri dgn lamunan!!!
goblok..kamu tahu melamun bisa menghancurkan saluran sel otak kamu??
otak kamu, otak kita, dan saya, kita dan kamu dipaksa untuk bekerja keras mencari, berfikir, dan memahami hal2 yang kita sendiri, kamu dan saya pun ngga tahu apa jawabannya?!kita ,kamu dan saya senantiasa melupakan sesuatu...
JUJUR! takkan sanggup kita melupakan saat kita tersakiti..memenuhi tuntutan hidup..
.atau menerima doktrin...
cita2 kamu adalah bukan cita-citamu sendiri.....atau mendengar kata2 inii....
KAMU HARUS JADI ORANG!!!
KAMU HARUS JADI SUKSES!!!
KAMU HARUS CINTAI DIA!!!
KAMU JANGAN COBA-COBA DEKATI DIA!!!
KAMU HARUS JADI INSINYUR!!!
KAMU HARUS BERSAING!!!
KAPAN KAMU BISA BERCINTA!!!
ATAU KAPAN KAMU KERJA??
tanpa ada kalimat...
kapan kamu mencintai mahluk tuhan??
kapan kamu bisa merasa sempurna??
atau kapan kamu membuka mata saat bunga mekar??
yak....saat umurmu menyentuh seperempat abad..
kamu, kita dan saya pun merasa sama saja...mengharap suatu saat nanti...
ada keinginan yang bener2 kita inginkan....
saya ingin kita atau kamu terus melanjutkan dan di masa nanti kita bisa tersenyum puas tanpa suatu paksaan dari pihak manapun!!
kamu pernah menyaksikan dan tak rela mengakui kenyataan dan kamu harus mencari pelarian bahkan harus lari terbirit-birit???
walaupun sempat menyadari tanpa diri seseorang seperti dia di hati kamu bisa terjatuh.......
saya cuman ingin kamu dan kita mengucap kalimat!
'HEY YOU!! JUST LEAVE ME ALONE!!"
ucapkan sesering mungkin bersama kalimat ini:
"AKU INGIN SELAMAT DUNIA DAN AKHIRAT, TUHAN!!!"
dan saksikan bintang jatuh diatas kepalamu saat kau berdoa dibawah bintang-bintang!
-CP# 7-
Thursday, October 21, 2004
Tuhan itu Maha Adil
...Ya Tuhan, walau pun masih pagi, udara musim semi di selatan London ini, membuat aku merasa kegerahan…
Ya Tuhan, walau pun masih pagi, udara musim semi di selatan London ini, membuat aku merasa kegerahan. Apalagi sahabatku yang satu ini, tidak berhenti-hentinya mengingatkan aku agar jangan terlalu berharap banyak bisa mengobrol langsung apalagi bisa langsung akrab dengan cewek cantik bernama Taya.
Dari yang aku dengar bahwa Taya ini adalah seorang gadis cantik, putih, dan pujaan setiap lelaki di kota ini, ia juga merupakan seorang bidadari cantik yang pernah Alloh SWT ciptakan di dunia nan indah ini.
Well, it’s ok, sementara hanya itu saja informasi yang kudapatkan dari sahabatku ini. Asalkan saja nanti aku bisa melihatnya langsung dari dekat mungkin itu sudah cukup, apalagi hatiku sekarang ini sedang berdetak kencang seakan-akan mau melompat saja menanti sebuah moment, dimana diriku bisa melihat salah satu wanita cantik yang notabene jarang ditemui oleh pria manapun...”bisa jadi”, gumamku.
Setelah beberapa saat, aku dan sahabatku Romi turun dari mobilku. “Wah, banyak sekali orang yang datang ke pesta pernikahan ini yah?”, sahut Romi.
“Yah, namanya juga pesta pernikahan kalangan orang kaya, pasti banyak sekali tamu yang diundang!”,jawabku. sambil kita berdua langsung bergegas masuk ke gedung tempat pernikahan itu berlangsung. Suasana sejuk musim semi diluar, kicau-kicau burung yang terbang bebas di pagi hari ini, angin sepoi-sepoi berubah terbalik saat kami memasuki gedung itu, dan sesuai dengan perkiraan kita berdua, gedung sebesar ini saja rasanya menjadi sempit penuh orang-orang berdesakan, ada yang bersalaman dengan pengantin, para fotografer, para tamu undangan yang sedang menyantap makanan, para tamu pencari makanan di outlet-outlet yang disediakan, asap rokok yang membuatku sesak bernafas, bahkan suara nyanyian wedding singer pun tidak begitu jelas terdengar telingaku.
“Huh, apa yang kita cari di sini,Rom”, sahutku berceletuk.
“Yah..payah kamu ini, biar panas begini, kita bisa cari-cari cewek-cewek yang duduk sendirian di pojok-pojok gedung ini…Ayo, kita cari mereka..jangan payah kamu,” timpal Romi bersemangat.
Kamu yang payah, kok bisa-bisanya kamu nyaman sama suasana seperti ini? sahutku dalam hati. Kok bisa Romi begitu menggebu-gebu mencari pertautan cinta baru di tempat seperti ini. Baru saja tadi aku melamun sejenak, aku sudah kehilangan jejak langkah Romi yang sudah tertelan kerumunan para tamu undangan.
“Sial..kemana perginya dia?”, lagi-lagi aku berceletuk.
Sudahlah..lebih baik aku keluar dari suasana sesak gedung ini. Mungkin bila 5 menit lagi aku masih berdiam diri di dalam gedung itu aku bisa mati berdiri karena sesak nafas.
Aku keluar, lalu mengambil duduk di beranda samping kanan gedung itu. Wuihh, gila..kalo saja aku tahu bakalan begini, mendingan aku diam saja di rumah sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahku yang menumpuk. Belum lama aku menyandarkan punggungku ini, aku mendengar suara isak tangis dari ujung lorong.
….Belum lama aku menyandarkan punggungku ini, aku mendengar suara isak tangis dari ujung lorong….
“Hah, siapakah gerangan yang sedang menangis di ujung lorong sana?”,tanyaku.
Aku mencoba berjalan menelusuri lorong ini dengan hati bergetar, sampai aku melihat sesosok gadis berkulit putih yang sedang duduk bersimpuh, berambut hitam indah dengan panjang sebahu, mengenakan pakaian gaun hitam dengan bagian kulit pundaknya terlihat jelas. Aku mencoba mencari sudut pandang lain agar aku bisa melihat jelas wajahnya, tapi gadis itu hanya menundukan kepala dengan kedua tangan yang seperti terikat itu menutupi wajahnya. Diantara angin musim semi yang sejuk ini, gadis itu hanya duduk tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, bahkan suara angin yang menyahut telingaku berganti hanya mendengar isak tangis gadis di depanku ini.
“ehm, Maaf. kamu baik-baik saja? sedang apa kamu disini?”,tanyaku hati-hati.
Akhirnya gadis itu mengangkat kepalanya, dan barulah terlihat jelas wajah gadis itu, yang airmatanya sudah mengalir di kedua belah pipinya, matanya merah, pipinya merona merah pula.
“Maaf, apakah kamu baik-baik saja?”,tanyaku pelan.
“Baik…aku baik-baik saja, maaf saya menganggu”, jawabnya sambil terisak-isak. Seakan-akan tangisannya tadi belum usai sepenuhnya. Tanpa basa-basi gadis itu bergegas pergi tanpa sepatah kata apa pun lagi pada orang yang berada dihadapannya….aku.
Langkahnya semakin cepat…cepat, dan berlalu pergi berlari menjauh dari tempat dimana aku berdiri sekarang ini. Siapakah dia sebenarnya? Sesosok gadis cantik duduk bersimpuh sendirian, menangis, tanpa banyak kata dia berlari menjauh seakan-akan baru melihat setan, atau mungkin dia seorang Putri Cinderella yang harus bergegas pergi sebelum jam 12 malam..Ada-ada saja manusia itu.
Belum usai semua tanya itu aku jawab. “hei, buddy. Sedang apa kamu disini? Aku mencari-carimu di dalam sana. Ayo masuk! nanti aku kenalkan 2 cewek cantik didalam sana. Mereka cantik, dan single lho?! Hahaha”, ajaknya semangat. Lagi-lagi belum sempat aku mengajukan keberatan, Romi sudah menarik tanganku kencang-kencang.
…Siapakah dia sebenarnya? Sesosok gadis cantik duduk sendirian, menangis, tanpa banyak kata dia berlari menjauh seakan-akan baru melihat setan, atau mungkin dia seorang Putri Cinderella yang harus bergegas pergi sebelum jam 12 malam…
Beberapa jam waktu berselang, dari sepulang kami menghabiskan waktu pagi hingga malam hari ini dengan bersenang-senang dengan 2 gadis kenalan Romi di acara pernikahan tadi pagi. Setelah aku mengantar pulang Romi ke rumahnya. Mataku rasanya begitu sulit diajak berkompromi, aku capek sekali, mataku berat, sedangkan perjalanan pulang ke rumahku pun masih sangat jauh. Jarum jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Aku harus segera pulang malam ini.
Iringan lagu Diana Krall semakin membuat diriku semakin mengantuk, setelah melewati rute seperti biasanya dalam perjalanan pulang, aku melihat sebuah mobil sedan merah BMW sedang berhenti di samping jalan. Sesosok gadis, muncul dari balik kap mobil tersebut.. Lalu, kakinya menendang bagian bumper depan mobil itu sembari kesal sekali.
“Wait a minute, itu kan gadis yang menangis di lorong gedung tadi pagi?”, pikirku.
Benar saja, biarpun pandanganku yang sedang dilanda rasa kantuk berat, tetap saja aku masih bisa melihat jelas bahwa itu adalah gadis yang sama tadi pagi. Aku segera menghentikan laju kendaraanku ke pinggir. Aku mencoba keluar dari kemudi, dan aku pun mencoba menghampirinya..
“Maaf, kamu baik-baik saja?”, tanyaku pelan.
Gadis itu sempat terperanjat kaget, sembari melihat diriku dengan tatapan kosong penuh tanya, siapa juga cowok ini?
“Oh, baik kok.. Maaf, maksudku tidak..”, jawabnya bingung
“Ya, aku ini orang yang menyahut kamu di lorong gedung itu”, sahutku.
Belum sempat aku memberi ia kesempatan menjawab pertanyaanku, aku menawarkan bantuan untuk meringankan problem-nya malam ini.
“So, what the problem, nona? Barangkali ada yang bisa saya bantu”, tanyaku kemudian.
“oh iya, ini mobilku tiba-tiba saja mogok, aneh banget. Biasanya ngga pernah begini”,jawabnya lembut.
“Baiklah, coba saya periksa dulu sebentar”, timpalku mantap.
Beberapa waktu berselang setelah aku mengotak-atik bagian mesin mobil ini, aku menyuruh gadis ini untuk mencoba menyalakan mobilnya lagi. Jrenggg… alhamdulillah, akhirnya berfungsi lagi jalan mobil ini. Tampak wajah yang berbinar-binar dari gadis itu, terlihat wajah cantiknya bersinar seiring senyuman surganya semakin menambah keindahan senyum sukma sesosok bidadari yang ada dihadapanku ini. Ya Tuhan, engkau memang maha besar dapat menciptakan gadis secantik dia.. Baru saja aku selesai melamun, Dia menawarkan tangannya untuk berjabatan tangan.
…Tampak wajah yang berbinar-binar dari gadis itu, terlihat wajah cantiknya bersinar seiring senyuman surganya semakin menambah keindahan senyum sukma sesosok bidadari yang ada dihadapanku ini…
“Thanks yah, kang. Kenalkan namaku Taya. Oh iya, nama akang ini siapa?”
Seakan-akan langit runtuh diatas kepalaku, sama seperti angin di padang sahara yang berhenti bertiup, sama seperti gulungan ombak yang berhenti menyentuh pasir daratan pantai, sama seperti dadaku ini yang sempat berhenti berdetak dan berhenti menghirup oksigen. Taya….Taya….ini hanya mimpi atau memang rancangan sang khalik?! pikirku.
Lagi-lagi belum sempat aku selesai berpikir, Gadis itu…Taya…sudah ada dekat dihadapanku, mengipas-ngipaskan tangannya di hadapan muka tololku ini.
“Hei, kamu baik-baik saja kan?..halooo??”
“ehh..eh, maaf. Maaf, saya ngga konsentrasi barusan. Oh iya siapa namamu barusan?”, tanyaku lagi. Agar lebih meyakinkan apa yang aku dengar barusan.
“Namaku Taya…Sekarang nama kamu siapa?”, timbalnya.
“Namaku Chandra…Ya, Chandra.”, jawabku mantap.
Sembari kita berdua bersalaman, sangat terasa sekali halus kulit tangannya menyentuh kulit ari bagian luar tanganku. Lembut, halus, putih, wangi sekali. Rasanya tidak ingin aku melepas jabatan tangan ini sampai hari kiamat datang. Ah, mana mungkin aku bisa terus menyantap lembutnya tangan ini, pikirku. Tuhan mempunyai beribu alasan kenapa aku harus bertemu dengan gadis cantik ini dengan cara yang tidak pernah masuk akal pikiran manusia. Lantas seyumannya menyambut kembali.
“Oh iya Chandra. Sembari merayakan pertemuan kita ini bagaimana kalau kita pergi mencari secangkir kopi sambil ngobrol-ngobrol?”, pintanya.
“I’d loved too, that would be great...”, timpalku.
Lalu kami berdua pun berjalan kaki mencari café terdekat, untuk bisa saling mengenal diri kita masing-masing. Sesampainya di Café Starbucks. Aku mempersilahkan dahulu Taya untuk memesan. Dia memesan secangkir hot capucinno dan aku memesan Irish Coffee. Aku merasa kami berdua seperti sahabat kental saja, tidak ada penghalang, aku merasa bahwa Taya ini selain cantik, ia juga gadis yang supel, mudah akrab, gadis yang senang bergaul dengan banyak orang, dan yang tak kalah pentingnya dia adalah tipe cewek yang selalu dituntut untuk selalu gembira, karena feeling-ku mengatakan kalau ia adalah gadis yang selalu memendam masalahnya dan mudah melupakan semua perasaan yang telah menyayat-nyayat hatinya itu. Ah, ternyata kopi pesanan kami sudah datang. Taya langsung menyeruput kopi tersebut lembut, aku suka sekali caranya dia menyeruput kopi itu, lalu dia tersenyum.
“Kamu tahu ngga, Chandra? Kalau Capucinno diminum panas-panas begini enak lho, Chand?”
“Oh yah?, tapi nanti bisa merusak lidah dan gigi-mu lho”, timpalku.
“Kamu ini yah, kok perhatian sekali sama aku?!”
“Lho, itu kan demi kebaikan kamu sendiri, Taya.”
“Sudahlah, kamu punya rokok Chandra? Boleh aku minta?”, pintanya.
“Oh, yah. Ada.. Silahkan!”, sambil aku menyodorkan tanganku menawarkan sebungkus penuh rokok.
Tanpa ragu-ragu dia langsung membakar sebatang rokok itu…Menyedotnya dalam-dalam dengan rongga tenggorokannya, menahan sejenak asapnya di dalam rongga mulut, dan langsung mengeluarkannya melalui lubang hidungnya dan ada sedikit asap rokok keluar melalui mulutnya…Ya Tuhan, bibir tipisnya itu…aku terpana. Sungguh, Tuhan. Dia cantik sekali, aku tidak tahan melihat mahluk ciptaanmu ini ada dihadapanku. Aku ingin memilikinya sepanjang sisa hidupku, itu juga jika engkau menginjinkan aku, Tuhan.
“Hihihi, lucu sekali yah?”, Taya bertanya sambil melanjutkan dengan menyeruput kopinya kembali.
“Hah, Lucu kenapa?”, aku kebingungan, sebuah kata singkat tetapi mempunyai beribu makna itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
“Beberapa saat yang lalu kamu melihat aku menangis sendirian, barusan kamu juga melihat aku kesal bukan kepalang, dan kamu juga sekarang melihat aku sedang duduk bersantai, seperti seolah-olah tidak ada masalah yang menimpaku hari ini.”
Aku hanya tersenyum simpul. Aku mencoba meminum kopi-ku ini sebentar, lalu berpikir sejenak. Belum sempat aku menanyakan segala sesuatu apa yang menimpa Taya hari ini. Dia sudah melempar kalimat tanya kembali padaku.
“Hmm.. bolehkah aku bercerita tentang hari ini padamu, Chandra?”
“Sure, I mean. Apakah kamu yakin bisa nyaman cerita soal ini padaku. Padahal kita kan baru kenal beberapa menit yang lalu?”, jawabku.
“Look, aku ini orang yang tidak mudah bercerita pada semua orang. Aku hanya bercerita pada orang-orang yang aku rasa yakin saja. Aku percaya sama kamu kok Chandra. Kamu ini orang baik bukan?, lanjutnya sambil tersenyum kembali.
“Hmm..Baiklah kalau begitu, Allright then, tell me!”
Mulailah Taya bercerita. Ia bercerita kalau ia takkan melupakan hari ini, serasa terjebak di padang pasir sahara, sebelum ia tiba sampai tujuan. Dia bercerita kalau hari ini kekasihnya menikah pada pagi hari tadi. Ya, Taya datang sendirian ke acara pernikahan di gedung tadi, melihat segala kesakralan sebuah pernikahan dua sejoli, dimana kekasih yang ia sayangi sepenuh hati menikah dengan orang lain, ia melihat keseluruhan pernikahan itu dengan matanya sendiri. Aku…aku hanya berdiam diri saja mendengar ceritanya itu. Aku bertanya-tanya, gadis macam apa dia ini? berani datang sendirian dan melihat perasaan hatinya hancur lebur…Gila…gadis macam apa dia ini??
Dia juga bercerita bagaimana perasaannya hancur saat harus menerima kenyataan bahwa cintanya itu tidak berujung pada akhir yang bahagia, ia harus menerima segala takdir Tuhan dengan lapang dada, menerima cobaan bahwa hubungan Taya dengan kekasihnya itu tidak direstui oleh orangtua kekasihnya, dimana mereka lebih setuju menjodohkan kekasihnya dengan wanita yang lain, bukan Taya. Dia bercerita bagaimana harus menghadapi hari berikutnya tanpa orang yang dia sayangi. Tragis..sungguh tragis sekali derita hidup gadis cantik ini, terlebih takdir ini dialami oleh orang seperti Taya. Apakah Tuhan itu adil? Adilkah Tuhan itu? Aku sendiri tidak tahu jawaban pastinya. Ingin rasanya diriku bergerak untuk segera menolong dirinya melewati masa-masa sulit saat ini dan yang akan datang nanti, tapi apa dayaku saat ini. Ya, itulah aku, orang yang selalu ingin bersusah payah untuk selalu ikut membantu segala macam kesulitan orang lain, walaupun aku sendiri sebenarnya tidak berdaya sama sekali. Maka sampailah ia di titik, dimana ia tidak bisa lagi meneruskan ceritanya, cerita apa yang telah dialaminya sepanjang hari ini, lalu aku melihat airmata yang kembali menyentuh kedua pipinya perlahan. Inilah satu-satu senjata pamungkas yang dimilik setiap mahluk Hawa… hanya menangis…
“Masyaalloh, tragis sekali ceritamu itu Taya! I’m so sorry to hear that from you, dear. Tetapi aku salut dengan ketabahan hati kamu dalam menjalani takdir Tuhan ini. I give you a Two thumbs up for you, Taya!”, sambil aku menawarkan sapu tanganku padanya, agar ia bisa menyeka airmatanya itu. Dia mengambil sapu tanganku sambil berkata,
“Thanks Chandra. Aku sekarang harus selalu tabah yah?”, timpalnya.
“Ya, aku sangat yakin, kalau kamu bisa menjalaninya nanti. Kamu memang gadis yang luar biasa sekali Taya.” , sahutku.
“Thanks.. your support it’s realy means a lot for me”.
Tanpa terasa jarum jam sudah menunjukan pukul 1 pagi. Aku rasa pertemuan hari ini harus kita akhiri walaupun aku sendiri belum puas melewati malam ini bersama Taya untuk pertama kalinya. Walaupun aku belum puas menikmati wajah cantiknya malam ini, tapi semua harus diakhiri.. tapi aku ingin mengulangnya lagi esok hari.
“Taya, maaf sekali. Aku harus segera pulang malam ini.. Kamu ngga keberatan bukan?”
“Oh, sure not. Aku yang harus meminta maaf, aku sudah menyita waktu kamu buat mendengar cerita-cerita aku malam ini!”
“Tidak apa-apa, dengan senang hati. Aku juga berterima kasih, aku bisa jadi salah satu orang kepercayaan kamu buat denger semua ceritamu malam ini, it’s a great honour”
Lalu kami pun berjalan berdampingan, bergerak keluar dari café tersebut dan meninggalkan jauh dari tempat kita berdua saling berbagi suka dan duka. Dan ia menggandeng tanganku...sungguh indah sekali...Dalam perjalanan ini, aku melihat Taya sangat gembira sekali, seakan cahaya lilin-lilin ikut mengiringi jalan yang kita lalui bersama ini dan ikut meringankan bebannya, benda-benda langit pun ikut menerangi jalan yang kita lalui ini. Sungguh… ini diluar bayanganku bagaimana diri Taya itu sebenarnya. Bahkan lebih hebat dari dugaan aku sebelumnya. Sesampainya kami tiba di ujung tempat penyebrangan jalan. Taya membalikkan badannya, tinggi badannya yang hanya sebatas pandangan mataku ini mendekat padaku, lalu ia mendekat, semakin mendekatkan mulutnya pada wajahku, kemudian dalam sekilas mulutnya sudah berada di dekat telingaku, dan dia menyebutkan sebuah kalimat…
“Thanks for the night Chandra, I wont forget this night, I can shear my tears, I can also shear my joy, I think you are so romantic” …Kalimat itu terdengar pelan, halus, bahkan sangat lembut, bahkan aku masih merasakan nafas wanginya di leherku.. Ya Tuhan, terima kasih sekali aku bisa merasakan suasana malam ini bersama dia di sampingku.
Baru saja Taya menyebut kalimat itu dia tersenyum manis padaku, pipinya merona menjadi merah, dia malu, lalu ia langsung membalikkan badannya…dan menyebrangi jalan itu. Tiba-tiba…
Datang sebuah kendaraan dari arah kanan kami berdua, sebuah mobil pick-up dengan kecepatan tinggi dan….BraKKkk!!
“Tayaaaa…….”, aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku tidak peduli.
Aku mencoba berlari mendekat…mendekat….aku terperanjat ketika melihat Taya sudah bersimbah darah.
“Tidakk…..tidakkkkkkkkkkkk!!”, lalu aku melihat ke langit-langit yang tadinya tersenyum dan bintang-bintang yang bersinar terang…menjadi gelap gulita dan mendung, dan aku bertanya marah… “bagaimana mungkin, Tuhan???”… “kenapa??”
Jangan-jangan ini hanyalah mimpi, bukan sebuah kenyataan pahit. Tapi, semakin percaya aku meyakini ini hanyalah mimpi, darah merah yang berada di sekitar tubuhku semakin terasa…tidakkk…ini pasti hanya mimpi.
Tiba-tiba ada suara lembut dan pelan menyahutku…Taya mengucapkan sesuatu…
“Chan…Chandra…Chand… ternyata Tuhan itu adil yah?”, sahutnya.
Sampai aku sadar bahwa itu adalah kata terakhir yang aku dengar darinya, bahkan aku merasakan ruh-nya keluar dari jasadnya ini. Malaikat maut mengambilnya…Tuhan membawa ruhnya ke atas sana…Jauh diatas sana…
“Innalillahi Wa Inna Illaihi Rojiunnn…selamat jalan…selamat jalan, sayang!”, terucap begitu saja dari mulutku.
Dalam keadaan sadar aku harus melihatnya beristirahat selama-lamanya.
Semoga kamu bisa tenang di alam sana, Taya. Rasanya aku benar menilaimu, Taya. Sepertinya aku ingin memelukmu sampai rasa takut ini hilang, tapi awal kelembutan ini menjadi sebuah tragedi, terkadang saat-saat seperti ini rasa cinta itu terasa berlebihan. Benar katamu Taya….
Dirimu memang tidak sanggup menghadapi kenyataan di kehidupan akan datang, bila kamu harus kehilangan orang yang kamu sayangi. Dan Tuhan mengambil keputusan… keputusan yang adil…keputusan yang sangat adil bagi seluruh manuisa….Tuhan itu selalu adil, Tuhan memang selalu adil…Tuhan itu maha adil.
-*THE END*-
Created By:
Chandra Prawendha
Thursday…October 21, 2004.
“Tuhan itu maha adil”
[cerpen yang terinspirasi dari kecantikan abadi seorang gadis bernama Taya Kadhita].
Saturday, October 09, 2004
*Melangkah ke simphony cinta*
Friday, October 08, 2004
"aku cium hujan di keningmu"
aku cium hujan di keningmu,sayang...
aku cium hujan di keningmu yang basah,
alangkah damainya,
alangkah damainya,
tapi masih sanggupkah kau memahaminya sebagai cinta?
aku cinta mufti itu,
di ujung ruang yang kosong,
malam memasang purnama,
sedang kita masih bermain kata-kata,
sedang kita masih terhalang asa,
sedang kita masih bertanya-tanya,
sedang kita masih bersandar pada gerhana,
sudikah kamu mencintai chandra ini?
"dibuat di ujung ruang kosong - 22.11.2003"
Jomblo
ada ruang kosong disudut itu,
ada yang berubah dalam hati,
bahkan ada suara yang memekakan,
apa ini?
kenapa? dan kenapa?
selalu saja kenapa?
ada apa lagi nanti?
kesal, sesal...marah
selalu percikan bara api dalam hati,
sejam kemudian aku menoleh,
terlihat sudut itu masih kosong,
adilkah sudut itu kosong?
bahkan bagiku mustahil itu adil,
Tuhan pun tersenyum,
Bodoh...tuhan sudah adil..tahu!!
aahh, itu hanya isapan para ulama,
Goblok..tuhan itu selalu benar,
pasti sungguh benar,
Lalu, kenapa sudut itu masih kosong?
apakah akan selalu dikosongkan?
atau akan selalu dibuat kosong?
"dibuat dalam ruang hati yang kosong - 19.12.2003"
